Model Perilaku Pencarian Informasi Sense-Making

Model pencarian informasi sense-making berkembang sejak 1972 oleh Brenda Dervin dan koleganya, namun baru diterapkan pertama kali ada 1983 dalam penelitian yang berkaitan dengan kebutuan informasi dan pengguna informasi. Secara sederhana Dervin menggambarkan model sense-making sebagai seorang individu berjalan, kemudian ia menemui sebuah lubang besar di jalan yang harus dilaluinya. Situasi seperti ini ia dihadapkan oleh kesenjangan (Atikah, 2002: 12).
Sense-making merupakan salah satu konsep dan metode yang berlandaskan pada paradigma konstruktivisme dan menggunakan pendekatan kognitif. Kunci utama endekatan kognitif adalah kebutuhan individu dan pemakai. Beberapa asumsi inti sense-making adalah diskontinuitas (ketidaksinambungan). Terterdapat jurang antara entitas, waktu, dan ruang. Setiap individu adalah entitas bergerak melalui waktu dan ruang, berurusan dengan entitas lain yang termasuk orang lain, artefak, sistem, atau institusi.
Pembuatan makana (sense) individu merupakan metafora sentral dari endekatan sense-making (Spurgin, 2006: 102). Sense-making didefinisikan sebagai perilaku internal dan eksternal yang memungkinkan individu mengkontruksikan dan merancang perjalanannya melintasi ruang dan waktu (Atikah, 2002: 10)


Gambar 1. Metafora Sense-Making
Sumber: https://rfsic.revues.org/docannexe/image/898/img-1.png

            Gambar 1. Menunjukkan metafora seseorang manusia sedang berjalan menuju jembatan yang sedang membawa masalah (setuasi problematik). Manusia tersebut berusaha membangun sebuah jembatan yang berupa informasi yang ia maknai (sense-making) yang di bawahnnya ada jurang (gap) yang harus ia lewati untuk menuju situasi tujuan.


Gambar 2. Trianggulasi Sense-Making
Sumber: http://www.redalyc.org/pdf/973/97323655011.pdf

Gambar 2. menggambarkan secara lebih sederhana dari konse sense-making. Konsep ini berfokus pada trianggulasi antara tiga unsur dasar pada diri manusia, yaitu situasi, jurang, dan hasil/kegunaan. Ketiganya selalu bergerak dalam ruang dan waktu.  Situasi merupakan sebagai konteks ruang dan waktu, di mana sense-making dikontruksikan. Konsep kesenjangan (gap) adalah salah satu aspek ketidakjelasan, dari situasi di mana orang merasakan kebutuhan untuk mencari kejelasan agar dapat melakukan gerakannya. Kesenjangan ini bisa berupa kebutuhan akan informasi atau pertanyan yang muncul dari diri pemakai.

Daftar Pustaka:
Atikah. 2002. Pola pencarian Informasi Mahasiswa BIPA (Bahasa indonesia untuk Penutur asing). Skripsi tidak diterbitkan. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.­
Handayani, Tri. 2004. Kebutuhan dan Pecarian Informasi Bagi Pejabat Fungsional di Pusat Penelitian dan engembangan Teknologi Mineral dan Batubara. Skripsi tidak diterbitkan. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.­
Spurgin, Kristina M. 2006. The Sense-Making Aproach and the Study of Personal Information Management. Ersonal Information Management-A SIGIR 2006 Workshop. (Online), (http://pim.ischool.washington.edu/pim06/files/spurgin-paper.pdf), diakses ada tanggal 09 Oktober 2016.

Komentar

Postingan Populer