Supernova: Akar
Anarki
Punk itu filosifi. Punk merupakan reaksi politisnya terhadap karut-marut politik yang membuat ia muak. Anarki tidak sama dengan chaos, tidak sama dengan kekerasan. Anarkisme merupakan satu dorongan naluriah akibat sistem ekonomi yang tamak dan pemerintah yang opresif. Anarki berarti egaliter total. Bukan omong kosong doang. Anarki berusaha mengembalikan kemerdekaan di tangan individu tanpa unsur paksaan.
"Kita harus percaya kalau semua orang sama, Ya, perempuan, ya, laki, ya, orang kita, ya, china. Semua sama. Patriotisme itu taik. Perang itu goblok. Media massa apalagi. Mereka cuma butuh uang. Nggak di sini, tapi diseluruh dunia. Mereka nggak pernah lihat masalah yang sebenarnya. Cuma perduli sama kalimat sepotongnya artis-artis sinetron, musikus, politikus. Semua ini barang dagangan, man. Dengan lo nolak dikontrol institusi, lo ngambil kendali hidup di tangan lo sendiri. Itu dia yang namanya personal order. Itu dia yang namanya anarki. Dan kita-kita harus hidup saling menghormati, saling percaya.
"Selama prinsip dasar setiap pemerintahan adalah berkuasa di atas satu pihak, ke laut saja pada! Gue jamin mereka bakal jadi opresif. Kita dihianati tiga kali oleh komunis, lo tahu? Pemberontakan Kronstadt tahun '21, gerakan anarkis Ukraina dari tahun '18 sampai '21, sama Perang Bersaudara Spanyol tahun '23 sampai '39. Begitu menang, anarkisme malah digencet komunis totaliter. Revolusi yang sebenarnya nggak pernah kejadian. Cuma ganti pemimpin doang! Lingkaran setan!
"Gue, nggak akan pernah ngutil di warung si Gombel, justru harus beli dagangannya untuk bantu dia. Gue cuma mau ngutil di toko-toko kapitalis. Lo ngerti, kan? Anarki bukan berarti tidak ada hukum. Tapi, anarki adalah kondisi ketika hukum... tidak.. lagi... dibutuhkan."
"Manusia makin nggak kayak manusia, Bod. Orang miskin ngerampok televisi, ngerampok HP-barang-barang yang mereka nggak butuhkan. Lo tahu kenapa? Karena itulah syarat untu8k jadi manusia jaman sekarang ini. Itu juga yang dikejar-kejar orang kelas atas. Kagak perduli kalau perlu sampai ngtisap darah manusia lain. Kapitalisme itu kanibalisme."
Terkadang, kau temukan mutiara di dalam lumpur ketika melihat seorang Bong berkata dengan suara bergetar. "Jauh-jauh orang ngomong soal neraka, Bod. Bukannya kita sekarang lagi terbakar hidup-hidup di sana?"
Dunia ini Nisbi
"Hidup ini relatif"
"Apa yang kamu pikir salah di sini bisa jadi sahih di tempat lain. Racun bisa jadi obat. Obat bisa jadi racun."
"Oke, oke, maksud saya... relax! Matahari saja tidak muncul 12 jam di setiap jam di setiap tempat! Semua bergantung di mana kakimu berpijak. Dan, sekarang kamu ada di Golden Triangle, so forget about the rest of the globe."
Ya. Sekalipun langit tetap sama biru dan awan sama putih, daun ganja sama hijau, tetapi tidak sama tinggi. Pernah suatu kali aku menonton televisi dan melihat pembakaran ladang ganja di Aceh, semua itu kurcaci dibandingkan pohon yang kupetiki setiap harinya di sini. Kacang ijo vs Buta Ijo.
Pohon-pohon di ladang ini menjulang tinggi melebihi tiang listrik, batang kokohnya sebesar pelukan lengan orang dewasa, dan apabila kau berdiri di bawah lalu melihat ke atas, niscaya pucuk tertingginya tak terlihat. Mereka begitu rimbun, segar, menaungimu dari sengatan matahari hingga bisa saja kau jatuh sayang. Tak akan rela apabila pohon-pohon manis ini lantas dibakar habis. Apa salah mereka? Mereka cuma ingin hidup. Dibakar malah jadi kelengar.
Setiap pohon terapit tangga banbu yang didirikan permanen. Pekerja akan menaiki tangga, dibekali gunting tanaman untuk memotong bunga-bunganya., lalu dimasukkan ke kantong kain yang disampirkan di bahu. Beberapa menit sekali, traktor kecil tak beratap lewat untuk menadah isi tas-tas yang sudah penuh bunga. Kami lemparkan ke dalam bak.
Daunnya, yang dianggap emas hijau di banyak tempat, yang membuat manusia bisa saling bunuh, saling suap, saling bekap, di sini cuma jadi sampah hijau. Digilas dan digerus kaki-kaki kami setiap hari. Tristan benar, dunia ini nisbi, sekalipun daun ganja sama hijau.
Dongeng Sisifus
Kell pernah mendogenkan legenda Sisifus yang dihukum dewa-dewa Yunani untuk mendorong batu ke puncak gunung, cuma supaya batu itu kembali bergulir jatuh dan Sisifus terpaksa memulai lagi dari bawah. Begitu terus untuk selama-lamanya. Cerita terngeri yang pernah kudengar. Di sisni, setiap orang ditugasi memetik satu baris pohon yang ditandai dengan papan nomor. Begitu kau sampai di ujung baris, yang kira-kira makan waktu satu minggu, pohon yang paling awal sudah kembali berbunga. Kau pun akan diputar di ujung semula, memetik lagi di baris yang sama. Begitu seterusnya.
Aku baru mengerti makna cerita Kell. Dan, di sini ada ribuan Sisifus. Sama sekali tidak istimewa, mana mungkin jadi legenda. Namun, tak mengapa. Kami pun cuma bekerja empat jam sehari, tidak boleh lebih. Giliran pertama mulai pukul tujuh pagi dan yang kedua dimulai pukul sebelas siang. Sudah. Tidak ada yang dikungkung keabadian di sini. Pekerja datang dan pergi, dua-tiga-empat minggu, semuanya bergantung berapa uang yang ingin mereka kumpulkan sebelum akhirnya lepas lagi bertualang.
Dan, "Perserikatan Bangsa-Bangsa" di sini sepakat bahwa Golden Triangle merupakan dimensi lain tempat segalanya bergerak lamban. Tak ada kegiatan signifikan sehabis empat jam kami bekerja.
Komentar
Posting Komentar