Pusat Sumber Belajar Poltekkes Kemenkes Malang

Oleh:Ulfaa isthuufia  (110213306160), Milla nafizahrona (110213314038), dan Pindyana adyatama    (110213314012) 

A. Latar Belakang
         Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu. Sumber belajar mencakup apa saja yang dapat digunakan untuk membantu tiap orang untuk belajar dan manampilkan kompetensinya. Sumber belajar meliputi, pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan latar (AECT 1994), Menurut Dirjen Dikti (1983: 12), sumber belajar adalah segala sesuatu dan dengan mana seseorang mempelajari sesuatu. Degeng (1990: 83) menyebutkan sumber belajar mencakup semua sumber yang mungkin dapat dipergunakan oleh si-belajar agar terjadi prilaku belajar. Dalam proses belajar komponen sumber belajar itu mungkin dimanfaatkan secara tunggal atau secara kombinasi, baik sumber belajar yang direncanakan maupun sumber belajar yang dimanfaatkan. 


         Pusat sumber belajar (PSB) adalah suatu perkembangan baru dari perpustakaan. PSB lebih lengkap dibandingkan dengan perpustakaan sebab tidak hanya terdiri dari kumpulan buku atau media cetak lainnya, tetapi mempunyai koleksi khusus sesuai dengan perguruan tinggi atau sekolah yang ditunjangnya plus media non cetak misalnya model, kumpulan benda yang sebenarnya, overhead transparency, foto, slide,filmstrip, video, komputer dan lain-lain. Selain menyediakan sumber-sumber belajar juga memberikan konsultasi pengembangan bahan pengajaran dan persentase dengan menggunakan media, memberikan pengajaran untuk latihan dan memproduksi media. 

         Dalam pemanfaatan sumber belajar, dosen mempunyai tanggung jawab membantu peserta didik belajar agar belajar lebih mudah, lebih lancar, lebih terarah. Oleh sebab itu dosen dituntut untuk memiliki kemampuan khusus yang berhubungan dengan pemanfaatan sumber belajar. Menurut Ditjend. Dikti (1983: 38-39), dosen harus mampu: (a) Menggunakan sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. (b) Mengenalkan dan menyajikan sumber belajar. (c) Menerangkan peranan berbagai sumber belajar dalam pembelajaran. (d) Menyusun tugas-tugas penggunaan sumber belajar dalam bentuk tingkah laku. (e) Mencari sendiri bahan dari berbagai sumber. (f) Memilih bahan sesuai dengan prinsip dan teori belajar. (g) Menilai keefektifan penggunaan sumber belajar sebagai bagian dari bahan pembelajarannya. (h) Merencanakan kegiatan penggunaan sumber belajar secara efektif. 

         Di samping kemampuan di atas, dosen perlu (1) mengetahui proses komunikasi dalam proses belajar, yang bahannya diperoleh dari teori komunikasi dan psikologi pendidikan, (2) mengetahui sifat masing-masing sumber belajar, baik secara fisik maupun sifat-sifat yang ditimbulkan oleh faktor lain yang mempengaruhi sumber belajar tersebut, (3) memperolehnya, yaitu tahu benar dimana lokasi suatu sumber dan bagaimana cara memberikan pelayanannya. Kemampuan tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran bahwa dosen perlu menyadari pentingnya kemampuan-kemampuan khusus yang dikembangkan bila menginginkan proses belajar mencapai sasaran yang optimal. Sajian ini akan mencoba menyoroti dari 3 (tiga) bagian yaitu, sumber belajar, pemanfaatan sumber belajar, dan pengelolaan sumber belajar.

       Berbagai usaha yang dilakukan oleh guru atau pengelola pendidik untuk lebih meningkatkan serta mendukung proses belajar agar lebih efektif dan efisien. Meskipun banyak faktor yang menentukan kualitas pendidikan atau hasil belajar. Salah satunya yang terkait dengan sumber belajar. Banyak berbagai sumber yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar. 

         Oleh karenanya, belajar-mengajar sebagai suatu proses merupakan suatu sistem yang tidak terlepas dari komponen-komponen lain yang saling berinteraksi di dalamnya. Salah satu komponen dalam proses tersebut adalah sumber belajar. Sumber belajar itu tidak lain adalah daya yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan proses belajar-mengajar, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, sebagian atau secara keseluruhan.
         Sumber belajar diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan perilaku. Salah satu sumber belajar yang sering digunakan dalam proses belajar mengajar adalah perpustakaan dan buku. Maka dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai pemanfaatan perpustakaan sumber belajar 

         Perpustakaan merupakan sebuah tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengolah dan memelihara bahan pustaka baik tercetak maupun non cetak yang dikelola dan diatur untuk digunakan oleh pengguna perpustakaan sebagai sumber informasi, studi, dan rekreasi. Terdapat pula pengertian yang mengatakan bahwa perpustakaan merupakan sebuah ruangan yang digunakan untuk mencari, menyimpan, mengolah serta menyebarkan informasi yang sedikitnya memiliki kurang lebih 1000 judul buku koleksi atau 2500 eksemplar buku. Sehingga perpustakaan juga dapat dikatakan termasuk dalam salah satu pemenuhan kebutuhan informasi bagi pengunjung.

         Begitu juga pada Perpustakaan Perguruan Tinggi yang pada dasarnya memang sebuah pusat sumber belajar dan informasi bagi peserta didik yang berada di sekolah, baik tingkat dasar sampai dengan tingkat menengah atas. Dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan pula peserta didik dan pendidik dapat terfasilitasi untuk dapat terpenuhi kebutuhan informasi mereka. Sehingga mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar. Peningkatan kualitas pembelajaran serta mutu prestasi peserta didik pun juga berkat perpustakaan dalam memberikan pemenuhan kebutuhan informasi.
B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana fungsi pelayanan media pembelajaran yang dibutuhkan mahasiswa sebagai pusat sumber belajar di Perpustakaan Poltekkes Kemenkes Malang?
b. Bagaimana fungsi pelatihan dalam memfasilitasi pelatihan terkait pemanfaatan media dan sumber belajar di Poltekkes Kemenkes Malang?

C. Tujuan
a. Mengetahui fungsi pelayanan media pembelajaran yang dibutuhkan mahasiswa sebagai pusat sumber belajar di Perpustakaan Poltekkes Kemenkes Malang.
b. Mengetahui fungsi pelatihan dalam memfasilitasi pelatihan terkait pemanfaatan media dan sumber belajar di Poltekkes Kemenkes Malang.

PEMBAHASAN

A. Fungsi Pelayanan Media
         Memberi layanan kepada guru dan siswa dalam pemenuhan kebutuhan (peminjaman) media dan sumber belajar. Fungsi Pelayanan Media Pembelajaran Fungsi ini memberikan layanan kepada dosen, guru dan fasilitator terhadap kebutuhan media pembelajaran. Mulai dari teknik penyajiannya, memilih media yang tepat, sampai kepada pemanfaatan berbagai jenis-jenis media lainnya. Sedangkan dalam layanan kepada para peserta didik berupa layanan belajar individual/kelompok yang berbasis media, khususnya media pembelajaran audio-visual/media elektronik lainnya.

         Fungsi ini kurang berjalan di Perpustakaan Poltekkes, terlihat dari tidak adanya media audio-visual/media elektronik untuk menunjang proses pembelajaran. Koleksi audiovisual pun tidak ada, ada pun koleksi yang berbentuk CD hanya koleksi Skripsi dan Karya Tulis Ilmiah (KTI). Namun untuk koleksi CD Skripsi atau KTI tidak dipinjamkan kepada mahasiswa, karena koleksi ini hanya digunakan sebagai koleksi tandon.

         Harusnya sebagai perpustakaan sebagai PSB harus menyediakan koleksi yang lebih bervariasi tidak hanya berupa koleksi buku tercetak namun juga koleksi audiovisual seperti CD, DVD, Kaset dll. Sehingga imajinasi mahasiswa akan ikut terlibat dalam proses pembelajaran. Hal ini sangat baik karena daya imajinasi akan berpengaruh dalam peresapan materi pembelajaran yang lebih maksimal.

      Selanjutnya untuk mendukung proses belajar baik secara individu maupun kelompok perpustakaan sebagai PSB juga harus menyediakan sarana tempat untuk mahasiswa berdiskusi maupun untuk kerja kelompok. Sehingga mahasiswa akan merasa nyaman dan merasa terfasilitasi kutuk berbagi ilmu pengetahuan dengan melakukan diskusi maupun kerja kelompok.

      Bahan-bahan yang dikoleksi pusat sumber belajar yang dimanfaatkan baik oleh guru maupun mahasiswa dapat dibeli di tempat-tempat yang menjual bahan atau media yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah atau madrasah misalnya toko buku, toko VCD dan atau kaset rekaman audio atau video, atau dapat diperoleh melalui hibah dari lembaga-lembaga yang ada hubungannya dengan pendidikan seperti departemen, kedutaan luar negeri, dan sebagainya.

     Dalam jangka panjang tentunya pusat sumber belajar sendiri harus makin bertumbuh sehingga mempunyai kemampuan sendiri untuk memproduksi berbagai jenis media dan bahan belajar yang benar-benar dibutuhkan sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.

         Untuk memudahkan pelaksanaan pelayanan sirkulasi bahan dan media belajar yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran, perlu mengklasifikasi bahan-bahan yang sudah berhasil diproduksi dan kemudian memberikan “entry number” untuk setiap bahan yang disimpan. Kita dapat menggunakan klasifikasi Desimal Dewey (DDC atau Dewey Decimal Classification) sebagai yang digunakan untuk mengklasifikasi buku-buku yang ada di perpustakaan.


B. Fungsi Pelatihan
         Fungsi Pelatihan Fungsi ini bertanggung jawab terhadap pengembangan kemampuan Sumber Daya Manusia, baik staff administrasi maupun tenaga pengajar lainnya. Berkaitan dengan tenaga pengajar bagi peningkatan kompetensi mengajar, khususnya di dalam penggunaan sumber-sember belajar dan media lainnya, akan tetapi bagi staf dalam pelayanan yang baik bagi pengguna Pusat Sumber Belajar dan pengeloloaan sumber belajar.

         Fungsi ini kurang berjalan di Poltekkes dapat dilihat dari perilaku mahasiswa yang salah saat memanfaat perpustakaan, mereka cenderung pelakukan pencarian informasi dengan cara mereka sendiri, seperti tidak mencari buku yang akan mereka cari dengan bantuan katalog ataupun OPAC. Sehingga mahasiswa malah mengacak-acak jajaran koleksi yang ada di rak perpustakaan.

         Mahasiswa juga cenderung melakukan plagiasi mereka sering memotret Skripsi maupun KTI sebagai bahan rujukan, padahal memotret ini akan mempermudah mereka melakukan plagiasi dengan mengkopi karya orang lain untuk kepentingan pribadi.

         Untuk mengatasi masalah di atas dapat diatasi dengan pelaksanaan pendidikan pemakai perpustakaan dapat dilakukan melalui ceramah penyampaian materi, wisata perpustakaan (tour library) dan pelajaran tentang perpustakaan.

1. Ceramah Penyampaian Materi
         Kegiatan ini dilakukan pada masa awal siswa memasuki Sekolah Dasar yaitu pada masa orientasi siswa (MOS). Penyajian dilakukan semenarik mungkin dan menyenangkan dengan media-media yang menarik perhatian anak. Metode bisa dilaksanakan dalam bentuk ceramah dan tanya jawab yang dilakukan di kelas atau aula.
         Pustakawan memberikan materi dapat dengan menggunakan media komputer dan LCD sehingga akan menarik dan mudah diterima siswa. Dalam meterinya yang diberikan pustakawan siswa diajak untuk lebih dekat mengenal perpustakaan. Siswa diperkenalkan berbagai fasilitas dan jasa yang disediakan di perpustakaan, misalnya layanan perpustakaan, sarana temukembali informasi, lokasi penempatan buku di rak, ruang baca, ruang diskusi, tata tertip perpustakaan, keanggotaan dan sebagainya. Setelah penyampaian materi siswa diajak praktik langsung ke perpustakaan dengan tour library.

2. wisata perpustakaan (Tour Library)
         Siswa diajak praktik secara langsung bagaimana prosedur pengunjung dari pertama masuk sampai pengunjung keluar dari perpustakaan. Misalnya dari penitipan barang ke loker, menggunakan kartu anggota, penggunaan fasilitas yang ada di perpustakaan, misalnya penggunaan katalog (OPAC), layanan peminjaman, diperkenalkan berbagai macam koleksi yang ada, dan lain sebagainya. Langkah-langkah Tour Library adalah sebagai berikut:
  •  Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, usahakan jumlahnya jangan terlalu banyak. Sehingga pembelajaran akan berjalan merata pada setiap sisiwa. Jumlahnya maksimal 10 anak. Agar lebih mengenangkan setiap kelompok memiliki ketua dandiberi nama kelompok yang menarik anak. Contoh kelompok panda, kucing, kupu-kupu, dan sebagainya.
  • Setiap kelompok siswa didampingi oleh pustakawan, pustakawan bertugas mengatur dan membimbing berjalannya kegiatan Tour Library.
  • Setiap kelompok diajak bergiliran masuk ke bagian-bagian perpustakaan dan mempratikkan langsung sarana-sarana yang ada di perpustakaan.
  • Untuk menghindari bentrokkan antar kelompok lain, perlu diadakan alokasi waktu pada setiap titik-titik layanan. Sehingga kegiatan Tour Library akan berjalan lancar.
         Diharapkan dengan diadakannya Tour Library jika siswa nanti berkunjung ke perpustakaan tidak akan merasa asing serta dapat melakukan sesuai dengan prosedur yang ada dan tidak akan menemui kesulitan.

3. Pengajaran perpustakaan
         Dalam hal ini staf pustakawan perlu berkoardinasi dengan staf pengajar, yaitu dengan cara memasukkan materi pendidikan pemakai ke dalam kurikulum muata lokal dengan diberlakukannya satuan kredit semester. Materi yang diajarkanpun disesuaikan dengan tingkatan kelas siswa karena itu perlu adanya kerjasama dengan guru kelas. Terkadang siswa juga diajak praktik langsung ke perpustakaan.
Materi yang dapat diajarkan kepada anak adalah bagaimana perpustakaan itu beroprasi, diurus dan diolah. Pemahaman secara garis besar proses seleksi bahan pustaka, pegadaan bahan pustaka, iventarisasi bahan pustaka, pengolahan, sampai bahan pustaka siap dilayankan perlu diperkenalkan pada siswa. Dan mengajarkan bagaimana menggunakan bahan referensi dan bahan lainnya selain buku.


PENUTUP

A.Kesimpulan

         Pusat sumber belajar merupakan sistem mulai dari bentuk sederhana sampai ke yang rumit yang dirancang dan diatur secara khusus dengan tujuan untuk menyimpan, merawat, mengembangkan, dan memanfaatkan koleksi sumber belajar dalam berbagai bentuk.

         Pusat sumber belajar bertujuan meningkatkan efektifitas dan efisiensi kegiatan proses belajar mengajar melalui pengembangan sistem instruksional. Hal ini dilaksanakan dengan menyediakan berbagai macam pilihan untuk menunjang kegiatan kelas tradisional dan untuk mendorong penggunaan cara-cara yang baru (non tradional) yang paling sesuai untuk mencapai tujuan program akademis dan kewajiban-kewajiban institusional yang direncanakan lainnya.


B. Saran
         Untuk memenuhi kebutuhan masa depan akan peningkatan kualitas pendidikan maka pusat sumber belajar menjadi sesuatu yang penting untuk diberdayakan secara maksimal. Hendaknya PSB-PSB yang telah ada dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

         Pusat Sumber Belajar PSB perlu memiliki tenaga (SDM) yang berkaitan dengan produksi dan pengembangan media pembelajaran. Para pendidik diharapkan supaya meningkatkan pemahaman mengenai proses pengembangan PSB. Para pendidik agar lebih baik lagi menempatkan diri dalam melakukan kegiatan-kegiatan pengembangan PSB guna meningkatkan kualitas pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Hidyah, Nurul. (2012). Sumber Belajar.(Online), (http://nurul-pai.blogspot.com/2013/01/sumber-belajar.html), diakses pada tanggal 22 April 2013.












Komentar

Postingan Populer