Over Connected, Information Overload, dan Hyperreality
Perkembangan teknologi dan informasi memberikan
banyak dampak posif dan dampak negatif di kehidupan kita. Salah satu dampak dari
perkembangan teknologi di era globalisasi adalah over connected dan information
overload. Efek dari kedua hal tersebut menyebabkan hyperreality.
Over Connected dan Information
Overload
Over
Connected (OC) disini
penulis mendefinisikan dari sisi Teknologi
Informasi (TI) dan sosial. OC didefenisikan sebagai hubungan yang
berlebihan atau terlalu banyak memiliki koneksi, dalam hal ini adalah media
sosial. Di era globalisasi jumlah media
sosial semakin meningkat, membuat jumlah kenalan seseorang menjadi semakin
banyak, dan mendekatkan hubungan teman lama dan sanak saudara yang jauh menjadi
dekat. Seseorang dikatakan telah OC jika yang bersangkutan sudah sulit mengendalikan
aktivitas media sosialnya. Mereka akan gelisah jika terputus dari media sosial
dalam sehari saja.
Seseorang
dengan satu gadget saja sudah bisa
tersambung dengan berbagai media sosial, seperti Whatsapp, BBM, Line, Facebook,
Twitter, Instagram, Path dan masih banyak lainya. Banyaknya media sosial yang ada menyebabkan informasi
begitu bebas berterbangan. Selain media sosial informasi juga di dapat dari
televisi, radio, koran serta orang-orang di sekitar kita. Akibatnya seseorang
mengalami information overload.
Information Overload (IO) didefenisikan
jika informasi yang diterima seseorang telah melebihi kesanggupannya dalam
mengolahnya, yang mengakibatkannya menjadi lebih lambat atau mengalami
kesulitan dalam mengambil suatu keputusan untuk suatu persoalan. Bahkan orang
yang mengalami IO akan bisa berujung pada pengambilan keputusan yang salah.
Hyperreality
Kombinasi over
connected dan information overload membuat seseorang pengguna internet
terjebak dalam dunia Hyperreality. Menurut
Fajrian (2015), hyperrealitty atau
hiperealitas adalah ketidak mampuan kesadaran manusia membedakan kenyataan dan
fantasi, khususnya dalam kehidupan berteknologi. Seseorang yang mengalami Over Connected menganggap sesuatu yang
ada di dunia nyata lebih menyenangkan ketimbang realitas. Itu sebabnya kita
sering melihat orang sibuk dengan gadget-nya
di kereta, di tuang tunggu, bahkan ketika dengan pasangan.
Seseorang bisa kasmaran dengan lawan jenis hanya
karena melihat fotonya di instagram yang belum pernah ditemui, dari tulisan
atau update statusnya seseorang bisa
dianggap pintar dan baik hati. Bahkan dengan internet seseorang bisa dengan mudah
menghina, membully, dan mencacimaki orang lain tanpa melihat kebenarannya. Tidak
ada lagi sumber atau referensi utama akan kebenaran, dalam derasnya arus
informasi setiap individu bergerak bebas menentukan persepsinya. Kita jadi
mudah menilai orang dari apa yang ia hadirkan di internet.
Hiperealitas membawa kita pada situasi punya
banyak teman di media sosial, tetapi tidak punya sahabat di kehidupan nyata. Sering
berbincang dengan seseorang di negara lain, tapi tidak kenal tetangga sendiri. Makin
banyak informasi, tetapi makin jauh dari fakta. Makin berilmu, tapi makin
emosional dan impulsif. Makin terhubung, tapi makin minim tindakan. Maka dari itu jadilah pengguna yang cerdas, pergunakan segala sesuatu sewajarnya karena
sesuatu yang berlebihan sifatnya tidak baik termasuk penggunaan sosial media.
Sumber Referensi:
Fajrian, H. 2015. Kita dan Hiperrealitas. (Online), (http://www.kompasiana.com/hilmanfajrian/kita-dan-hiperealitas_5580f242e022bd6c310e7751),
diakses pada tanggal 29 september 2016.
Priyanto, Ida Fajar. 2016. Memory, cognition, & disruptive
technology. Materi Kuliah Isu-isu Kontemporer Informasi. Yogyakarta: Program
Studi Kajian Budaya dan Media Minat Studi Manajemen Informasi dan Perpustakaan
UGM.

Komentar
Posting Komentar