Pengembangan Komunitas Rumah Baca untuk Kegiatan Pendampingan Pembelajaran

Latar Belakang
            Kehadiran komunitas rumah baca bagi anak-anak, remaja dan kaum muda sangatlah penting untuk mengembangkan pendidikan karakter dan budi pekerti pada kaum muda yang saat ini jarang menjadi perhatian utama di sekolah-sekolah umum.  Pendidikan jaman sekarang yang  membuat anak menghabiskan waktu untuk membaca teori-teori dan mengesampingkan pendidikan moral. Faktor inilah yang merubah sikap dan perilaku anak.

            Pendidikan moral yang seharusnya diutamakan malah nomer sembilankan, sehingga seakan moral malah menjadi tabu. Banyaknya anak-anak, remaja, dan anak muda yang melakukan tindak kriminal, asusila, ketidak adilan, penindasan, korupsi, dan segala rupa kenistaan duniawi seolah menjadi perilaku halal bagi setiap pribadi. Diharapkan dengan adanya rumah baca dapat menjadi wadah bagi anak-anak dan remaja untuk saling bertukar pikiran mengekspresikan dan merealisasikan ide-ide kreatif dan inovatifnya.                  
            Rumah baca menjadi wadah untuk banyak belajar hal-hal baru, banyak inspirasi baru, banyak pengalaman baru, banyak jaringan baru, dan tentu saja menjadi salah satu media bagi para remaja untuk dapat berkontribusi secara langsung terhadap ‘kemerdekaan’ generasi muda penerus bangsa ini. Kondisi generasi muda penerus bangsa saat ini sedang terjajah di negeri sendiri sehingga wajib untuk dimerdekakan dari penjajahan tersebut. Bukan penjajahan secara fisik yang dimaksudkan, namun penjajahan alam pikiran.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, hal yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah.
1) Bagaimana peran Komunitas Rumah Baca dalam kegiatan pendampingan pembelajaran untuk memerdekakan generasi muda penerus bangsa dari ‘penjajahan’ yang sedang dialaminya?
2)  Bagaimana manajemen pengembangan Komunitas Rumah Baca?

Tujuan
            Sesuai dengan rumusan masalah yang diambil dalam penulisan makalah ini, tujuan yang ingin dicapai adalah.
1) Peran Komunitas Rumah Baca dalam kegiatan pendampingan pembelajaran untuk memerdekakan generasi muda penerus bangsa dari ‘penjajahan’ yang sedang dialaminya.
2)   Manajemen pengembangan Komunitas Rumah Baca.

Kegunaan
            Hasil penulisan makalah ini diharapkan dapat berguna dan  memberikan manfaat terutama:
1) Bagi Generasi muda
            Bagi generasi muda kegiatan pendampingan pembelajaran rumah baca agar mampu berpikir secara kritis dan bertindak sesuai dengan norma yang berlaku, selain itu agar generasi muda memiliki rasa percaya diri, mampu mengekspresikan pendapatnya, jujur, kreatif, bersikap baik pada dirinya dan lingkungan di sekitarnya serta mampu memahami fitrah ke-manusia-annya sehingga dapat menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini.
2)  Bagi Fasilitator/Volunteen
            Menjadi salah satu media bagi para volunteer untuk dapat berkontribusi secara langsung terhadap ‘kemerdekaan’ generasi muda penerus bangsa ini dari penjajahan yang sedang dialaminya.

Perpustakaan Berbasis Komunitas
            Pada subbab ini menjelaskan mengenai: (1) definisi komunitas; (2) definisi perpustakaan komunitas; (3) ciri perpustakaan komunitas; dan (4) perpustakaan komunitas sebagai tempat pendidikan anak.

1) Definisi Komunitas
            Menurut Rachmawaty (2009), kata komunitas berasal dari bahasa Perancis kuno communite sebagai turunan dari kata commun dan latin communitatem sebagai tutunan dari communis yang berarti berbagi dengan sesama atau sebagian besar. Kata com sendiri berarti bersama dan munia berarti tugas masyarakat (public duties) yang berkaitan dengan pekerjaan. Dengan demikian, kata komunitas dapat diartikan sebagai adanya kerjasama dalam sebuah tugas.
            Komunitas adalah sekelompok orang yang berada dalam lingkup daerah yang sama atau sekelompok orang yang memimpin kehidupan yang sama atau sekelompok orang yang memiliki hak yang sama atau sekelompok orang yang memiliki tujuan atau minat yang sama (Satpathy: 2008). Sehingga dapat diambil kesimpul bahwa yang dimaksud komunitas adalah sekumpulan manusia yang saling mengenal yang memiliki tujuan atau minat yang sama, dimana mereka saling berbagi dan mendukung antara satu sama lain.

2) Definisi Perpustakaan Komunitas
            Undang-undang Perpustakaan tidak menjelaskan mengenai perpustakaan komunitas, namun menurut penulis perpustakaan komunitas masuk dalam golongan perpustakaan khusus. Dijelaskan pada Pasal 25 no 43 tahun 2007, bahwa perpustakaan khusus menyediakan bahan perpustakaan sesuai dengan kebutuhan pemasyarakat dilingkungannya.
            Menurut Stian Haklev (dalam Mustaqim) mengungkapkan bahwa perpustakaan komunitas diselenggarakan terutama bagi diri komunitas itu sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam upaya memberdayakan dirinya. Menurut penulis perpustakaan komunitas perpustakaan yang berisi sekumpulan orang yang memiliki perhatian atau kegemaran terhadap suatu topik tertentu dimana mereka saling berbagi untuk memperdalam pengetahuan serta keahlian mereka dan mendukung antara satu sama lain saling berinteraksi secara terus-menerus.

3) Ciri Perpustakaan Komunitas
            Menurut Evershed (dalam Susanti: 2009), mengatakan bahwa ciri dari perpustakaan komunitas ada enam. Berikut penjelan dari enam ciri perpustakaan kominitas. Pertama, melayani masyarakat umum. Tujuannya adalah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan kemampuan masyarakat umum. Kedua, kecil atau sederhana. Perpustakaan komunitas memiliki satu sampai empat ruang, dan mungkin saja menambah ruang lain atau dengan lembaga lain. Tujuannya supaya bisa menyatu secara alami dengan masyarakat sekitarnya dan tidak mendapat perhatian yang tidak diinginkan dari masyarakat.
            Ketiga, dikelola oleh masyarakat lokal. Pengelolaan utama mengelola lingkungan sekitar dan menyusun strategi untuk mencapai sasaran, dan mendukung masyarakat untuk membiasakan diri mencari informasi, berorganisasi, dan berdiskusi menggunakan perpustakaan komunitas tersebut sebagai wadah agar kegiatan tersebut berkembang. Keempat, bergantung pada relawan. perpustakaan komunitas umumnya memiliki staf dan pengelola utama, dan bergantung pada relawan. Kemampuan dan pengetahuan mereka dilatih dengan baik oleh pengelola utama.
            Kelima, perpustakaan tersebut berkembang di dalam komunitas. Perpustakaan komunitas mencerminkan keadaan komunitas tersebut dan mengembangkan apa saja yang dibutuhkan komunitas. Keenam, berjejaring. Setiap perpustakaan komunitas bergabung dalam jaringan perpustakaan komunitas. Mereka bergantung satu sama lain dalam berbagai informasi, strategi, ide, dan sumber-sumber informasi lain. Jaringan tersebut merupakan satu bentuk solidaritas dan dukungan.

4) Perpustakaan Komunitas sebagai Tempat Pendidikan Anak
            Pendidikan telah menjadi sesuatu yang sangat kompleks dalam proses mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang berharga, baik formal maupun informal. Karena salah satu misi perpustakaan sama dengan misi pendidikan. Sehingga walaupun tidak didisain untuk memberikan pendidikan formal serupa seperti sekolah atau kampus perpustakaan, perpustakaan bisa dijadikan sebagai sarana pendidikan sosial bagi masyarakat.
            Perpustakaan komunitas juga dapat menjadi tempat dan sarana untuk mendukung proses pembelajaran yang tidak didapat di sekolah formal. Sekarang istilah "pendidikan" ditunjukkan tidak hanya untuk pendidikan yang memiliki tahap lengkap seperti sekolah dan kampus, namun juka untuk pendidikan singkat yang kadang dianggap remeh.
            Perpustakaan komunitas biasanya lebih berfokus pada pengguna anak-anak dan secara otomatis biasanya lebih banyak memiliki koleksi anak-anak karena mereka percaya bahwa anak-anak yang terbiasa membaca sejak dini akan memperoleh manfaat yang berdampak panjang terhadap pola pikir anak tersebut.
            Spink (dalam Susanti; 2009), mengatakan bahwa anak-anak pra-sekolah bisa menggunakan perpustakaan sebagai persiapan untuk proses membaca di sekolahnya. Perpustakaan menyediakan akses terhadap bahan-bahan bacaan dan kegiatan lain yang berhubungan dengan buku, dalam hal keseniaan seperti melukis atau memahat, lagu, drama, dongeng, dan pertunjukkan boneka. Kegiatan tersebut membuka wawasan anak-anak terhadap berbagai topik dan menyediakan kesempatan bagi mereka untuk memilih sendiri buku dan bahan bacaan lain yang diinginkan.

Pengembangan Perpustakaan Komunitas
            Agar Perpustakaan Komunitas dapat melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya maka perpustakaan perlu dikelola secara profesional menurut sistem dan ketentuan umum yang berlaku. Progam pengembangan perpustakaan menjadi sangat penting karena menyangkut kebijakan-kebijakan yang dapat membuat sebuah perpustakaan berkembang. Adapun bidang-bidang yang perlu dikembangkan dalam sebuah perpustakaan adalah koleksi, sumber daya manusia, dan perlu manajemen perpustakaan.
1) Kebijakan Pengembangan Koleksi
            Menurut Darmono (2007), pengembangan koleksi mencakup semua kegiatan untuk memperluas koleksi yang ada di perpustakaan, terutama untuk kegiatan yang berkaitan dengan pemilihan dan evaluasi bahan pustaka.
            Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan pada saat pengembangan koleksi adalah ukuran koleksi, perimbangan koleksi yang ingin diadakan dengan koleksi yang telah ada, kuantitas pemakai, tingkat pendidikan pemakai, dan tingkat kebutuhan pemakai (Saefulloh, 2010).
            Menurut Darmono (2007), mengatakan bahwa secara umum pengembangan koleksi perlu merujuk pada tiga prinsip-prinsip pengembangan koleksi. Pertama, relevansi. Relevansi merupakan aktivitas pemilihan dan pengadaan terkait dengan program pendidikan yang disesuaikan dengan kurikulum yang ada. Berorientasi kepada pemakai. Dengan demikian kepentingan pengguna menjadi acuan dalam pemilihan dan pengadaan bahan pustaka.
Kedua, kelengkapan. Kelengkapan, koleksi perpustakaan diusahakan tidak hanya terdiri dari buku teks yang langsung dipakai untuk mata pelajaran yang diberikan tetapi juga menyangkut bidang ilmu yang berkaitan erat dengan program yang ada dalam kurikulum. Semua komponen koleksi mendapatkan perhatian yang wajar sesuai dengan tingkat prioritas yang ditentukan.
Ketiga, kemutahiran. Kemutahiran sumber informasi harus diupayakan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Kemutahiran bahan pustaka dapat dilihat dari tahu terbit. Keempat, kerjasama. Unsur-unsur yang terkait dalam pembinaan koleksi harus ada kerjasama yang baik dan harmonis sehingga pelaksaan kegiatan pembinaan koleksi berjalan fektif dan efisien.

2) Kebijakan Pengembangan Sumberdaya Manusia
            Sumber daya manusia merupakan faktor yang paling penting dalam sebuah perpustakaan, karena dengan adanya SDM yang baik maka perpustakaan dapat memberikan layanan yang memuaskan bagi pemustakanya.
Menurut Sutarno (2006) kebijakan pengembangan sumberdaya manusia di perpustakaan mencakup dua hal. Pertama, kualitas pengetahuan, keterampilan, sikap, kepribadian serta perilaku. Perkembangan di bidang ini dilakukan dengan: (a) mengikut sertakan dalam pendidikan formal berjenjang strata satu dan dua, pendidikan diploma, dan akademi; (b) mengikutsertakan pegawai di dalam pendidikan dan pelatihan (diklat) pegawai (in the job training);(c) mengikut sertakan pegawai dalam kursus-kursus dan sejenisnya; (d) mengikutsertakan pegawai dalam pendidikan professional (of the job training), misalnya untuk menambah kemampuan bahasa, computer, dan teknologi informs lainnya. (e) mengikutsertakan pegawai dalam latihan jabatan, prajabatan, magang, dan sejenisnya.
Kedua, kualitas (jumlah). Pembinaan sumberdaya manusia menurut jumlah mengacu kepada perkembangan kebutuhan. Hal itu dilakukan dengan tiga cara, yaitu: (a) menambah jumlah pegawai, apabila terjadi perkembangan organisasi, yang berarti tersedia formasi baru dan volume pekerjaan bertambah. (b) mengurangi jumlah pegawai, apabila terjadi peampingan struktur organisasi, karena penggabungan atau penghapusan sebagai dari struktur yang ada. (c) mempertahankan yang ada, namun dilakukan efisiensi dan efektifitas agar terjadi penghematan, waktu, tenaga, dan biaya serta sarana dan prasarana, namun tujuan dapat tercapai dengan lebih baik.

3) Manajemen Perpustakaan
            Agar tujuan dan fungsi perpustakaan dapat tercapai dengan baik sesuai dengan sasaran yang telah ditentukan maka perpustakaan perlu dikelola dengan baik sesuai dengan baik sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen.
Menurt Fayol dalam (Darmono: 2007), kebijakan-kebijakan yang dibuat dalam sebuah perpustakaan ada tiga, yaitu: (1) perencanaan, merupakan tindakan yang direncanakan atau diperlukan pada masa yang akan datang; (2) pengorganisasian, suatu proses pengenalan tugas-tugas yang harus dilakukan dan menentukan siapa dan bagaimana tugas-tugas tersebut dilakukan. pengorganisasian meliputi bentuk dan struktur dari sebuah organisasi; (3) menggerakkan, merupakan suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi. (4) pengawasan, merupakan tindakan seorang manajer untuk menilai dan mengendalikan jalannya suatu suatu kegiatan demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

4) Promosi
            Menurut Saleh (1995), promosi merupakan mekanisme peruasif pemasaran dengan memanfaatkan teknik-teknik hubungan masyarakat. Promosi merupakan kegiatan penting pada suatu organisasi yang bergerak pada bidang usaha dan jasa. Promosi dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu melalui brosur, media sosial, dan modal sosial.

Peran Komunitas Rumah Baca
            Merupakan sebuah komunitas yang bergerak di bidang pendidikan menggunakan model pendidikan terpadu. Pendidikan yang merupakan sebuah model pendidikan yang bersifat sebagai tambahan untuk peserta pendidikan formal. Komunitas terbentuk karena ada keinginan dari para anggotanya yang memiliki kesatuan visi dan misi untuk kemudian mewujudkan visi dan misinya. Begitu juga halnya dengan pembentukan Komunitas Rumah Raca yang juga dilandaskan atas kesatuan visi dan misi dari para pendirinya.
a. Visi dan Misi Komunitas Rumah Baca
            Visi Komunitas Rumah Baca adalah ‘terwujudnya generasi muda penerus bangsa yang merdeka’. Kondisi generasi muda penerus bangsa saat ini sedang terjajah di negeri sendiri sehingga wajib untuk dimerdekakan dari penjajahan tersebut. Bukan penjajahan secara fisik yang dimaksudkan, namun penjajahan alam pikiran.
Misi Komunitaas Rumah Baca adalah ‘mengadakan pendidikan non formal berbasis kearifan lokal’. Pendidikan adalah jalan bagi pemerdekaan alam pikiran sehingga kedua misi tersebut merupakan cara-cara yang dipandang paling sesuai untuk mewujudkan visi.
b. Target Komunitas Rumah Baca
            Seperti telah dipaparkan pada penjelasan di awal, target kegiatan pendampingan pembelajaran yang dilakukan rumah baca adalah untuk memerdekakan generasi muda penerus bangsa dari ‘penjajahan’ yang sedang dialaminya. Pada level peserta kegiatan pendampingan pembelajaran, Komunitaas Rumah Baca menginisiasi dan mendampingi anak-anak tersebut agar mampu berpikir secara kritis dan bertindak sesuai dengan ajaran agama.
            Kegiatan pendampingan pembelajaran tersebut dirancang sedemikian rupa agar dapat menginisiasi dan mendampingi anak-anak agar memiliki rasa percaya diri, mampu mengekspresikan pendapatnya, berani bertanya, jujur, kreatif, bersikap baik pada dirinya dan lingkungan di sekitarnya, ternetralisasi dari segala praktek dehumanisasi yang diterimanya dari lingkungan di sekitarnya, serta mampu memahami fitrah ke-manusia-annya sehingga dapat menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini.
c. Target Kegiatan Pendampingan Komunitas Rumah Baca
            Target kegiatan pendampingan pembelajaran rumah baca adalah seluruh elemen generasi muda penerus bangsa. Namun demikian, yang menjadi target utama kegiatan pendampingan pembelajaran lebih diprioritaskan kepada anak-anak yang berusia 4-12 tahun. Hal tersebut disebabkan karena pada usia-usia tersebut merupakan rentang usia yang sangat vital dalam proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak-anak yang akan sangat menentukan pendewasaan dirinya kelak.
            Disamping itu, setiap volunteer di rumah baca juga menjadi pelaku pembelajaran itu sendiri, dengan problem based learning yang diatasi secara mandiri maupun dengan bantuan peer group. Sehingga seluruh elemen yang terlibat di di rumah baca, baik anak-anak yang menjadi target kegiatan pendampingan pembelajaran maupun volunteer yang mendampingi anak-anak tersebut menjadi pelaku pembelajaran yang belajar secara terus menerus dan berkesinambungan.
d. Model Pendidikan
            Menggunakan model pendidikan terpadu yang merupakan sebuah model pendidikan yang bersifat sebagai tambahan untuk peserta pendidikan formal. Maksud dari terpadu adalah sifat pendidikan ini yang mengintegrasikan pembelajaran nilai-nilai ke-Islam-an dengan bahasa Inggris. Model pendidikan  terpadu merupakan model pendidikan yang dianggap paling sesuai aplikasinya dalam rangka upaya yang dilakukan untuk mewujudkan visi dan misi Komunitas Rumah Baca.
e. Bentuk Kegiatan Komunitas Rumah Baca
            Kegiatan yang dilakukan tentunya bersesuaian dengan misi agar dapat mencapai perwujudan visi. Kegiatan bisa meliputi program kegiatan jangka panjang dan jangka pendek sebagai berikut :
1) Program dan kegiatan jangka panjang
            Program dan kegiatan jangka panjang yang dimaksud adalah kegiatan yang bersifat terus menerus di laksanakan dan dikembangkan dengan menyesuaikan kepada program jangka pendek, meliputi:
(a) Pendampingan  belajar. Merupakan salah satu program pendampingan belajar untuk anak-anak yang diprakarsai oleh rumah baca.  Kelas-kelas ini diadakan setiap hari pada jam operasional Komunitas Rumah Baca. Berikut ini adalah daftar kelas disediakan:
- Kelas Pelancaran Baca Tulis Hitung (Calistung) PAUD-TK/RA & SD/MI
- Kelas Mind Map (untuk memahami pelajaran di sekolah dengan lebih mudah)
- Kelas Penulisan (Sastra, Ilmiah, Jurnalistik (termasuk fotografi)) SD/MI
- Kelas Bahasa (Inggris, Arab, Rusia, Jerman, Mandarin, Jepang, dll) SD/MI
- Kelas Ilmu Pengetahuan (Sains) SD/MI
- Kelas Minat & Bakat (Gambar & Mewarnai; Drama; Musik, & Kerajinan Tangan)
(b) Englisholidays. Kegiatan yang diadakan pada masa liburan sekolah ini bertujuan untuk mengisi liburan anak dengan kegiatan positif. Kegiatan bembelajaran yang dikemas dengan permainan. Seperti pembelajaran mengambil tema ikan, anak akan diajak mengenal dunia ikan dengan cara menonton film kartun ikan, mengamati ikan hidup, untuk mengetahui habitat hidup ikan. Pembelajaran dengan kemasan permainan treasure hunt dengan mengumpulkan jumbled letters yang dapat membentuk vocabularies bertema ikan.
(c)  Sundays English Club. Kegiatan yang merupakan kelanjutan dari Englisholidays ini tetap mengedepankan metode pembelajaran yang kreatif, inovatif, interaktif, dan menyenangkan. Agar proses pembelajaran bisa berjalan lancar, kegiatan pembelajaran bisa dirancang dengan membuat silabus yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak. Pembelajaran tidak harus di dalam kelas, dengan duduk di bangku bermeja lalu menghadap ke arah papan tulis, belajar bisa dimana saja, kapan saja, dan dengan sumber belajar apa saja yang ada di sekitar kita.
(d) Kegiatan pertengahan semester. Merupakan acara perlombaan bahasa Inggris, kegiatan diperuntukkan bagi seluruh anak-anak yang berusia 3-12 tahun. Perlombaan yang diadakan sadalah Coloring Contest (lomba mewarnai), Spelling Bee Quiz (kuis mengeja kata), Story Reading Contest (lomba membaca kisah-kisah dalam Al-Qur’an), Poetry Reading Contest (lomba membaca puisi), Creativity Contest (lomba menghias kartu ucapan untuk ayah dan ibu).
2) Program dan kegiatan jangka pendek
(a) Festifal anak, merupakan kegiatan untuk menampilkan hasil belajar anak-anak yang telah mengikuti pendampingan akan dipamerkan dan dipresentasikan dalam sebuah kegiatan festival anak, yang juga difungsikan sebagai evaluasi kegiatan pembelajaran secara berkala.
(b)  Lomba pada hari besar nasional, seperti hari kemerdekaan, sumpah pemuda, dan lain sebagainya. Maksud dari kegiatan ini untuk memperkenalkan anak tentang hari-hari besar yang ada di Indonesia. Kegiatan dapat dilakukan dengan berbagai macam perlombaan inovatif yang dapat mengasah kecerdasan anak. Contoh perlombaan yang diadakan adalah: 3 levels words game (lomba menyusun huruf acak untuk membentuk kata, lomba mengeja kata, dan lomba menebak kata yang hurufnya tidak lengkap), Run for the Puzzles (lomba menyusun puzzle berkelompok), Guess the Map (lomba menebak kota pada peta buta Indonesia), dan Missing Lyrics (lomba menebak kelanjutan lirik lagu-lagu wajib dan nasional Indonesia).
(c) Nonton bareng, kegiatan ini dilakukan tiap satu bulan sekali, film-film yang diputar harus mengandung nilai edukatif. Untuk memeriahkan suasana nobar, di setiap jeda pemutaran film, panitia mengadakan kuis berhadiah dengan pertanyaan yang diambil seputar film yang ditayangkan.
(d) Dongeng, volunteer mencaritakan cerita-cerita rakyat yang ada di indonesia. Kegiatan ini memiliki banyak manfaat seperti mengembangkan imajinasi anak, meningkatkan keterampilan berbahasa anak, meningkatkan minat baca anak, membangun kecerdasan emosional, dan membentuk anak yang mampu berempati.
f. Layanan Rumah Baca
            Ada enam layanan rumah baca yang ada di komunitas rumah baca, yaitu perpustakaan bergerak, ruang diskusi, bengkel seni, layanan baca di tempat, toko buku dan coffee.
1) Perpustakaan Bergerak. Tujuannya untuk mendekatkan diri kepada masyarakat yang wilayahnya sulit terjangkau. Oleh karena itu perlu ada aksi aktif “menjemput bola”.  Sehingga anak-anak setempat memiliki kesempatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan mengakses informasi yang dibutuhkan. Hal ini seperti yang dilakukan Solidaritas Istri Kabinet Republik Indonesia Bersatu (SIKIB) yang juga mendirikan sejumlah rumah baca dan meluncurkan perpustakaan bergerak seperti mobil pintar, montor pintar, dan kapal pintar.
2)  Ruang Diskusi. Suatu layanan yang menyediakan tempat dan fasilitas kepada pengunjung untuk melakukan diskusi, mengerjakan tugas, belajar bersama dan pelatihan. Layanan ini tidak dipungut biaya, pengunjung diwajibkan memesan dulu sebelum memakai layanan ini.
3)  Bengkel Seni, di peruntukan bagi anak-anak dan remaja yang mempunyai bakat dan minat pada seni, khususnya seni musik. Tujuannya adalah agar mereka tidak hanya bermain atau nongkrong-nongkrong di pinggir jalan saja, tetapi bisa menuangkan bakatnya dengan lebih serius hingga berkembang.
4)  Layanan Baca di tempat, Kominitas Rumah Baca tidak menyediakan layanan pinjam, karena alasan pegunjung rumah baca dari berbagai kalangan mulai anak-anak sampai orang tua, tidak terbatas status dan profesi. Sehingga akan sangat sulit mengontrol lajunya koleksi, apalagi bagi anak-anak yang belum memiliki identitas resmi. Dengan menerapkan sistem baca ditempat akan lebih meminimalisir kerusakan dan kehilangan koleksi.
5) Toko buku, Komunitas Rumah Baca bekerja sama dengan penerbit, untuk mendapatkan buku-buku yang berkualis untuk dijual kepada pengunjung yang mengingkan buku untuk koleksi pribadi.
6)  Coffee, seringnya anak-anak muda yang sering nongkrong dan kumpul-kumpul sambil ngopi, maka dari itu Komunitas Rumah Baca mencoba mengambil peluang itu dengan menyediakan coffee. Diharapkan para remaja selain dapat berkumpul dengan teman, mereka juga mendapatkan ilmu dengan berkunjung di perpustakaan rumah baca.
Manajemen Pengembangan Komunitas Rumah Baca
            Manajemen pengembangan komunitas rumah baca, yaitu meliputi kebijakan pengembangan koleksi, sumberdaya manusia (volunteer), pendanaan komunitas rumah baca,  dan promosi rumah baca.
a. Kebijakan Pengembangan Koleksi
            Koleksi yang dimiliki rumah baca  harus memadai, baik mengenai jumlah, jenis dan mutunya. Menyediakan berbagai jenis buku bacaan untuk anak sampai  dewasa yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Koleksi yang disediakan seperti komik, novel, cerigam, cerpen, koran, majalah, buku penunjang kuliah, buku pelajaran, kamus, ensiklopedia selain itu juga kolesi dalam bentuk digital.
            Selain itu rumah baca harus lebih selektif dalam hal pengadaan buku, mengiangat pengunjung lebih di prioritaskan kepada anak-anak. Gambar dan pemilihan bahasa yang terdapat di dalam buku harus mudah dipahami anak dan tidak mengandung pornografi.
            Komunitas rumah baca perlunya kerjasama dengan komunitas lain, untuk  melakukan rolling atau pertukaran buku agar koleksi yang dimiliki menjadi lebih berfariasi.  Tukar menukar bahan pustaka juga dapat dilakukan apabila rumah baca memiliki sejumlah bahan pustaka yang tidak diperlukan lagi atau jumlah pustaka yang terlalu banyak, atau hadiah yang tidak diinginkan, dan tentunya ada keinginan untuk ditukarkan dengan bahan yang lain.
b. Sumberdaya Manusia (volunteer)
            Volunteer merupakan merupakan sebutan bagi sukarelawan yang nantinya berperan sebagai konektor antara perpustakaan dengan pengunjung, serta bertugas mendampingi anak dalam kegiatan yang ada di rumah baca.
1)  Cara bergabung menjadi volunteer Komunitas Rumah Baca
            Cara menjadi volunteer di rumah baca ini cukup mudah, hanya dengan mengisi formulir pendaftaran dan memberikan data diri yang lengkap. Komunitas Rumah Baca ini terbuka untuk siapa saja yang ingin bergabung menjadi volunteer. Tidak ada batasan status (apakah belum menikah atau sudah menikah) dan profesi (apakah sudah bekerja atau mahasiswa atau ibu rumah tangga atau sedang tidak berkuliah, dst).
            Komunitas Rumah Baca ini tidak mengikat apalagi menuntut anggotanya untuk terlibat dalam semua kegiatan yang ada. Karena rumah baca membutukan banyak volunteer untuk mengerakkan kegiatan yang ada. Untuk memperkuat hubungan antar volunteer perlu diadakan  The Gathering pada setiap setiap bulannya.
            Komunitas Rumah Baca adalah wadah pembelajaran bagi siapa saja yang ada di dalamnya, baik yang menjadi peserta dari kegiatan pendampingan pembelajaran maupun yang menjadi pelaku dari kegiatan pendampingan tersebut. Volunteer  mendapatkan kebebasan ruang yang seluas-luasnya untuk mengekspresikan dan merealisasikan ide-ide kreatif dan inovatifnya. Sehingga para volunteer banyak belajar hal-hal baru, banyak inspirasi baru, banyak pengalaman baru, banyak jaringan baru, dan tentu saja menjadi salah satu media bagi para volunteer untuk dapat berkontribusi secara langsung terhadap ‘kemerdekaan’ generasi muda penerus bangsa ini dari penjajahan yang sedang dialaminya.
2) Pelatihan Volunteer
            Sebelum para volunteer menjadi pendamping bagi fasilitator anak-anak, terlebih dahuli para volunteer mengikuti pelatihan pendampingan untuk fasilitator anak.
c. Pendanaan Kegiatan  Komunitas  Rumah Baca
            Komunitas Rumah Baca tidak menutup diri untuk menerima bantuan dari lembaga di luar, dengan kerjasama dengan pemerintah atau CSR (Corporate Social Responsibility). Namun rumah baca dalam mendapatkan sumber pendanaan dari donasi yang tidak mengikat dari lembaga, masyarakat, maupun dari anggota rumah baca sendiri. Hal ini menrupakan komitmen rumah baca dalam rangka menjaga independensi terhadap seluruh bentuk kegiatan yang dilakukan.
            Dana juga dapat diperoleh melalui keuntungan dari toko buku dan coffe, untuk membiayai kegiatan pembelajaran. Dengan adanya toko buku dan coffe diharapkan mampu memenuhi kebutuhan kegiatan yang diadakan di rumah baca ini.   
d. Promosi Komunitas Rumah Baca
            Promoso yang dapat dilakukan oleh komunitas rumah baca adalah melalui media sosial, promosi melalui kegiatan, dan promosi melalui modal sosial.
1) Media sosial
            Perkembangan teknologi yang semakin cepat dan menjamurnya media sosial yang ada, maka komunitas rumah baca dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Contoh media sosial yang dapat domanfaatkan sebagai sarana promosi adalah facebook, twitter, blog, google+ dan sebagainya. Sehingga masyarakat dapat mengakses informasi yang berkaitan demgan komunitas rumah baca dari manapu dan kapanpun.
2) Promosi melalui Kegiatan
            Kegiatan-kegiatan yang dilakukan komunitas rumah baca selain untuk mengembangkan potensi anak, juga merupakan sarana promosi kepada masyarakat. Apalagi saat rumah baca sedang melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, rumah baca bekerjasama dengan para wartawan untuk mempablis kegiatan tersebut di koran/televisi/radio maka jangankauan promosi akan jauh lebih luas. Kerjasama antara komunitas rumah baca dengan wartawan dalam hal ini merupakan kerjasama yang saling menguntungkan, karena pihak wartawan sendiri juga membutuhkan informasi untuk tetap bisa berkarya.
3) Modal Sosial
            Modal sosial adalah salah satu komponen utama dalam menggerakkan kebersamaan, mobilitas ide, kesaling percayaan dan kesaling menguntungkan untuk mencapai kemajuan bersama. Modal sosial merupakan cara promosi yang paling murah dan paling efektif.
 Kesimpulan
1) Peran Komunitas Rumah Baca
            Latar pelakang adanya Komunitas Rumah Baca yaitu berawal dari kepedulian sebuah komunitas akan keterpurukkan generasi muda yang kian hari kian menjadi-jadi. Banyak generasi muda yang melakukan asusila, ketidak adilan, penindasan, korupsi, dan berbagai tindakan kriminal lainnya. Hal ini terjadi karena pendidikan formal masih mengesampingkan pendidikan moral. Faktor inilah yang merubah sikap dan perilaku anak. Komunitas Rumah Baca merupakan sebuah komunitas yang bergerak di bidang pendidikan menggunakan model pendidikan terpadu. Pendidikan yang merupakan sebuah model pendidikan yang bersifat sebagai tambahan untuk peserta pendidikan formal.
            Tidak hanya buku-buku dan permainan edukatif yang kami sediakan. Komunitas Rumah Baca juga menjadi pusat pendampingan pembelajaran untuk anak dengan gratis. Adapun bentuk kegiatan meliputi program kegiatan jangka panjang dan jangka pendek. Untuk kegiatan jangka panjang yaitu pendampingan belajar, englisholidays, sundays english club, dan kegiatan pertengahan semester. Sedangkan kegiatan jangka pendek yaitu festifal anak, lompa pada hari besar nasional, nonton bareng dan dongeng.
2) Manajemen Pengembangan Komunitas Rumah Baca
            Manajemen pengembangan Komunitas Rumah Baca, yaitu: (1) kebijakan pengembangan koleks, koleksi yang dimiliki rumah baca  harus memadai, baik mengenai jumlah, jenis dan mutunya. Komunitas rumah baca perlunya kerjasama dengan komunitas lain, untuk melakukan pertukaran buku agar koleksi lebih berfariasi; (2) pengembangan sumberdaya manusia (volunteer). Sebelum para volunteer menjadi pendamping bagi fasilitator anak-anak, terlebih dahuli para volunteer mengikuti pelatihan pendampingan untuk fasilitator anak; (c) pendanaan Komunitas Rumah Baca, dengan kerjasama dengan pemerintah atau CSR (Corporate Social Responsibility). Dana juga dapat diperoleh melalui keuntungan dari toko buku dan coffe, untuk membiayai kegiatan pembelajaran; (d) promoso yang dapat dilakukan oleh komunitas rumah baca adalah melalui media sosial, promosi melalui kegiatan, dan promosi melalui modal sosial.

Saran
1)  Komunitas Rumah Baca hendaknya selalu melakukan inovasi atau pengembangan  agar dapat mempertahankan eksistensi dan dapat meningkatkan kualitas masyarakat melalui program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.
2)  Komunitas Rumah Baca hendaknya selalu pengembangan kretivitas dan pengetahuan sumberdaya manusia (volunteer) dengan mengikut sertakan  dalam kursus-kursus dan sejenisnya.
3)   Para relawan (volunteer) hendaknya hendaknya selalu menjaga dan meningkatkan komitmen agar perpustakaan komunitas terus bisa bertahan di tengah-tengah masyarakat.
4) Komunitas Rumah Baca hendaknya selalu tanggap akan kebutuhan informasi yang ada diwilayahnya, dan selalu berkembang mengikuti perkembangan teknologi saat ini.
5)    Komunitas Rumah Baca hendaknya selalu aktif bekerja sama dengan pemerintah pemerintah atau pun program CSR (Corporate Social Responsibility). Dengan jaringan tersebut, maka pengelolaan perpustakaan akan menjadi lebih mudah dan banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak.
6) Komuntas Rumah Baca hendanya saling bekerja sama dengan komunitas lain untuk saling mendukung dan merdiskusi dalam memecahkan masalah yang dihadapi, agar program pendampingan pembelajaran anak dapat tersebar luas di wilayah Indonesia yang dapaknya akan tercepta generasi yang agar memiliki rasa percaya diri, mampu mengekspresikan pendapatnya, berani bertanya, jujur, kreatif, bersikap baik pada dirinya dan lingkungan di sekitarnya.

Daftar Rujukan
Darmono. 2007. Perpustakaan Sekolah: Pendekatan Aspek Manajemen dan Tata Kerja. Malang: Grasindo.
Rachmawaty, R. 2009. Pemukiman komunitas Pemulung: Studi Kasus Pemukiman Komunitas Pemulung di kelurahan Jakarta Timur.Skripsi tidak diterbitkan: Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan  Budaya Program Studi Ilmu Perpustakaan UI.
Saefulloh, 2010. Program Pengembangan Perpustakaan Kelurahan Oleh Perustakaan Umum Kota Bogor.Skripsi tidak diterbitkan: Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan  Budaya Program Studi Ilmu Perpustakaan UI.
Saleh, A. R. 1995.  Manajemen Perpustakaan Perguruan Tinggi. Universitas terbuka: Jakarta.
Satpathy, S. K. 2008. Community Information Service (SIC) Throught Public libraries: a Realistic Approch, (Online), (http://eprints.rclis.org/7721/), diakses pada tanggal 20 Oktober 2014.
Septiana, R.I. 2007. Pengembangan Perpustakaan Berbasis Komunitas: Studi Kasus Pada Rumah Cahaya, Melati Taman Baca dan kedai Baca Sanggar Barrudak. Skripsi tidak diterbitkan: Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan  Budaya Program Studi Ilmu Perpustakaan UI.
Susanti, Y. E. 2009. Peran Perpustakaan Komunitas di Masyarakat: Studi Kasusu Rumah Baca Zhaffa, Keluarga Manggarai, Jakarta Selatan.Skripsi tidak diterbitkan: Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan  Budaya Program Studi Ilmu Perpustakaan UI.
Sutarno. 2003. Perpustakaan dan Masyarakat. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta.


Komentar

Postingan Populer