Sejarah Perpustakaan Digital
Perpustakaan Digital Sesi 1
Gambar 1.
Perpustakaan Digital
Perpustakaan
dari masa ke masa selalu mengalami perkembangan sesuai dengan zaman dan
kebutuhan penggunanya. Era globalisasi dan tingkat kebutuhan informasi masyarakat
yang semakin tinggi menuntut perpustakaan untuk selalu berkembang. Perpustakaan
digital merupakan solusi bagi masyarakat yang ingin mendapatkan informasi
cepat, tepat, dan akurat. Menurut Tedd (2005), setidaknya ada empat tokoh dari
dunia perpustakaan dan informatika yang merupakan pionir munculnya perpustakaan
digital. Mereka adalah Vannevar Bush, Douglas Engelbart, Ted Nelson, dan Tim
Berners-Lee.
Vannevar
Bush
Gambar 2. Vannevar Bush
Vannevar
Bush pada tahun 1945, untuk pertama kalinya memunculkan ide tentang konsep dasar
perpustakaan digital. Melalui tulisannya
yang berjudul ‘As We May Think’ di
sebuah majalah popular, Atlantic Monthly.
Di dalam artikel tersebut, Burs mengeluhkan penyimpanan informasi manual yang
saat itu menghambat akses terhadap sebuah penelitian yang sudah dipublikasikan.
Sehingga Burs mengajukan ide tentang alat impiannya yang berupa sebuah ‘meja
kerja’ yang diberi nama Memex (baca mi.meks).
Gambar 3. Memex
Menurut
Pendit (2007), dalam bayang Bush meja ini memiliki layar baca dan merupakan
sebuah ‘mesin memori’ yang dapat menyimpan semua berkas, artikel, buku bacaan,
dan surat-menyurat seorang ilmuan. Mesin
ini adalah gabungan dari berbagai mesin film-mikro (microfilm). Adanya mesin ini akan memudahkan para peneliti untuk bisa
bekerja (mengetik, membaca, berpikir, memeriksa, dan menganalisa) dengan
berbagai berkas film-mikro yang saling berhubung secara otomatis. Memex
dibayangkan sebagai mesin canggih yang menjadi pengelola file pribadi dan
perpustakaan. Pada jaman itu orang belum terpikir tentang komputer.
Douglas
Engelbart
Gambar 4. Douglas Engelbart
Douglas
Engelbart merupakan seorang peneliti di
Stanford Research Institute, California. Impian Vannevar Bursh mendorong
Engelbart untuk menciptakan ‘Hypertext’.
Mesin ini berkonsep untuk membantu kegiatan kognitif manusia (kegiatan berpikir,
terutama dengan saling menghubung-hubungkan berbagai konsep). Engelbart
menerapkan hypertext pada sebuah system
informasi elektronik, yang kala itu sudah berbantuan komputer.
Ted
Nelson
Gambar 5. Ted Nelson
Melalui pemikiran-pemikiran Bush dan Engelbert, Ted
Nelson membuat proyek sendiri yang diberinama Xanadu Project. Walaupun
Engelbart merupakan orang pertama berpikir tentang hypertext, namun Nelson yang paling dikaitkan dengan konsep ini. Hal
ini dikarenakan banyak tulisan Nelson terkait Xanadu.
Menurut
Pendit (2007), dapat dikatakan, Xanadu adalah impian yang sangat komplit
tentang sebuah jaringan raksasa berisi berbagai teks, foto, film, dan suara
yang saling berkaitan, sambung-menyambung, menjadi sebuah mesin raksasa. Semua orang
dari maa saja dapat menggunakan mesin ini untuk mengambil data dan informasi
bagi keperluan. Bayangan Nelson ini tentu saja sekarang taka sing lagi, setelah
internet menjadi realistis.
Tim
Berners-Lee
Gambar 6. Tim Berners-Lee
Tim Berners-Lee, yang merupakan konsultasi software di Laboratorium Kimia di
Geneva, Switzeland, terkesaan dengan konsep hypertext.
Berners-Lee membuat sebuah program komputer yang dirancang untuk menyimpan
berbagai jenis data dan informasi, lalu membuat kaitannya mereka secara acak.
Akhirnya pada 1989, Berners-Lee mengusulkan hypertext
diperluas menjadi jaringan global agar orang-orang dari berbagai belahan dunia
dapat bekerja sama saling bertukar informasi. Dia lah yang mengusulkan, agar
jaringan itu diberi nama world wide web.
Berkat visi keempat tokoh di atas, para teknolog lalu
bekerja keras membuat berbagai alat dan memikirkan berbagai cara untuk menggunakan
jaringan telekomunikasi. Ketika internet menjadi jaringan global, maka impian
keempat tokoh ini telah menjadi kenyataan. Dari empat tokoh di atas dapat
ditambahkan lagi nama J.C.R Licklider.
J.C.R
Licklider
Gambar 7. J.C.R Licklider
J.C.R Licklider melalui tulisannya Libraries of the Future pada 1965, dia menuliskan bahwa 30 tahun
yang akan datang kondisi perpustakaan akan berubah dengan adanya teknologi
komputer. Pada waktu itu, komputer sudah mengalami perkembangan awal yang
pesat. Apa yang ditulisnya ternyata cukup akurat, karena boleh dikatakan era
1990an lah yang melahirkan perpustakaan digital. Perkembangan yang terjadi pada
tahun 1990an ini menjadi ciri awal dari perpustakaan digital yang sekarang ini
berkembang.
Pada awal
1990-an hampir seluruh fungsi perpustakaan ditunjang dengan otomasi dalam
jumlah dan cara tertentu. Pada 1994 Library of Congress, mengeluarkan rancangan Nasional
Digital Library dengan menggunakan tampilan dokumen elektronik, penyimpanan
dan penelusuran teks secara elektronik terhadap koleksi cetak maupun non cetak.
Di Indonesia, perpustakaan digital telah banyak dikembangkan
terutama oleh perpustakaan perguruan tinggi. Pada Juni 2001 jaringan
perpustakaan digital pertama di Indonesia yang diprakarsai oleh Knowledge Management Research Group
(KMRG) Institut Teknologi Bandung (ITB) mulai beroperasi. Jaringan Perpustakaan Digital tersebut itu bernama IndonesiaDLN
(Digital Library Network). Jaringan pustaka digital bertujuan mempermudah
kalangan akademik dan masyarakat umum untuk mengakses hasil penelitian, tugas
akhir mahasiswa, tesis maupun disertasi.
Membangun jaringan perpustakaan digital di Indonesia memang
tidaklah mudah, ada beberapa kendala baik
bersifat teknis maupun non-teknis. Kendala teknis seperti perbedaan metadata, kurangnya dukungan teknis dari
programmer, infrastruktur yang kurang memadai dan lainnya. Kendala non-teknis bisa
berkaitan dengan perbedaan pendapat antarmanusia-antarinstitusi. Hal inilah
yang menyebabkan pengembangan perpustakaan digital di Indonesia berjalan lambat.
Daftar
Pustaka
Pendit,
Putu Laxmana. 2007. Perpustakaan Digital: Perspektif Perpustakaan Perguruan Tinggi
Indonesia. Jakarta Seto.
Tedd,
Lucy A. 2005. Digital Libraryies:
Principal and Practices in a Global Environment. Muchen: K.G. Saur.







Komentar
Posting Komentar